Kehamilan Ektopik: Gejala, Penyebab dan Pengobatan

2 min read

kehamilan ektopik adalah

Kehamilan ektopik adalah kehamilan di luar rahim atau kandungan. Penyebab kondisi ini karena sel telur yang dibuahi tidak dapat menempel dengan baik pada rahim wanita. Melainkan sel telur tersebut menempel pada sebuah tempat lain di luar rahim yang bernama tuba fallopi atau saluran telur. Tepatnya pada bagian leher rahim di dalam rongga perut atau indung telur.

Pengertian lain dari kehamilan ektopik yaitu implantasi yang terjadi pada sel telur yang tidak pada tempat seharusnya, yaitu uterus. Jika sel telur tersebut sudah dibuahi kemudian menempel pada saluran telur, ini bisa membuat sel telur menjadi pecah atau bengkak dikarenakan pertumbuhan dari embrio.

Meskipun jumlah persentase untuk kehamilan ektopik ini sangat sedikit atau hanya sekitar 1% dari jumlah kehamilan di seluruh dunia, akan tetapi ini merupakan sebuah kondisi yang gawat darurat yang tentunya sangat perlu perawatan secepatnya.

Pasalnya, kehamilan ektopik ini bisa saja berakibat sangat fatal dan bisa membuat nyawa dari penderitanya terancam. Ini disebabkan karena terjadinya pendarahan pada rongga abdomen, di dalam perut wanita dan bukan terjadi pada pendarahan keluar.

Untuk kehamilan ektopik ini, kelahiran bayi atau janin memiliki kemungkinan sangat kecil untuk bisa bertahan hidup. Namun, ada juga yang mengalami kehamilan abdominal, dimana kondisi kehamilan dari wanita serta janinnya bisa bertahan hidup hingga sampai pada masa persalinan atau melahirkan tiba.

Hanya saja proses tersebut tidak akan dilakukan dengan persalinan normal, melainkan dengan operasi Caesar, dimana peluang untuk hidup dari ibu hamil dan bayi lebih besar.

Penyebab timbul kehamilan Ektopik

Kelainan yang timbul dalam tubuh ibu hamil bisa disebabkan karena berbagai hal.

Untuk kondisi kelainan seperti kehamilan ektopik ini juga termasuk salah satu kehamilan yang memiliki berbagai penyebab. Namun, penyebab paling utama yang bisa membuat timbul kehamilan ektopik ini adalah infeksi pada saluran tuba falopi wanita.

Kondisi kehamilan ektopik ini memiliki kemungkinan yang sangat besar terjadi pada wanita dengan kondisi seperti berikut ini:

  • Ada riwayat kehamilan ektopik yang artinya ibu hamil pernah mengalami kondisi kehamilan ektopik sebelumnya.
  • Pernah mengalami operasi pembedahan pada daerah saluran tuba falopi ibu hamil.
  • Selama menjalani masa kehamilan, ibu hamil pernah mengalami Diethylstiboestrol (DES).
  • Kelainan kongenital pada daerah tuba falopi ibu hamil.
  • Wanita yang memiliki riwayat penyakit seksual yang menular misalnya seperti, gonorrhea, kalimidia serta PID (pelvic inflamamtory disease)

Gejala saat mengalami kehamilan Ektopik

Gejala kehamilan ektopik terjadi pada ibu hamil dengan usi kehamilan 6 hingga 10 minggu.

Berikut ini adalah gejala dari kehamilan ektopik:

  • Adanya rasa sakit pada dialami oleh ibu hamil di sekitar daerah panggul khususnya pada salah satu sisinya, entah pada bagian kiri, kanan, depan atau belakang yang dapat dirasakan secara tiba-tiba.
  • Ibu hamil akan mengeluarkan darah melalui vaginanya yang mirip seperti haid (menstruasi) tetapi bukan pada masa haidnya tersebut.
  • Perut bagian bawah dari ibu hamil akan terasa sangat nyeri.
  • Kemungkinan terburuk ibu hamil bisa saja mengalami pingsan.

Gejala pada fase selanjutnya untuk kehamilan Ektopik

  • Ibu hamil akan merasakan sakit perut yang menyiksa lebih sering.
  • Ibu hamil akan terlihat sangat pucat.
  • Tekanan darah menurun atau hipotensi
  • Ibu hamil akan mengalami peningkatan pada denyut nadinya.

Cara melakukan diagnosa kehamilan ektopik

Ibu hamil yang menderita kehamilan ektopik ini memang cenderung sulit didiagnosa oleh para dokter. Pasalnya, gejala yang dialami memang tidak berbeda jauh dengan kehamilan normal pada umumnya.

Namun, 3 cara berikut ini mungkin dapat membantu Anda dalam melakukan diagnose kehamilan ektopik tersebut.

1. Melakukan USG (ultrasonography)

Dengan melakukan USG, maka dokter akan lebih mudah monitoring atau mendeteksi kehamilan ektopik melalui saluran tuba falopi jika mengalami kerusakan atau bisa melihat jika adanya embrio di luar uterus.

2. Dengan mengukur kadar HCG (human chrionic gonadotropin/hormon kehamilan).

3. Melakukan pembedahan pada bagian perut bawah (laparoskopi) ini dilakukan jika memang telah terdeteksi kehamilan ektopik.

Penagangan/Pengobatan

Cara mengobati kehamilan ektopik ini, biasanya ahli medis melakukan pemberian obat – obatan dalam menahan pertumbuhan embrio tersebut.

Dengan lebih cepat menangani kehamilan ektopik ini, maka para ibu hamil akan bisa dengan mudah menghindari efek jangka panjangnya.

Dokter akan memberikan suntikan yang dapat diterima atau diserap oleh tubuh dengan mudah, yang dapat membuat kondisi tuba falopi bisa menjadi tetap utuh. Namun, jika kondisi tuba falopi sudah mengembang, maka besar kemungkinan operasi akan dilakukan.

Prognosa

Kehamilan ektopik ini memiliki persentase terjadi pada ibu hamil di seluruh dunia yaitu 12%, untuk yang sebelumnya memang memiliki riwayat kehamilan ektopik.

Persentase wanita subur setelah mengalami ektopik ini sekitar 60%, kondisi trauma pada ibu hamil bisa membuat wanita tidak ingin hamil kembali sebesar 30%, dan 10% lainnya bisa memiliki masalah pada kesuburan setelah mengalami kehamilan ektopik tersebut.

Untuk Anda yang memang pernah mengalami kehamilan ektopik tersebut, tentu peluang untuk hamil kembali masih cukup besar.

Anda tidak perlu merasa cemas dan khawatir sehingga membuat Anda trauma dan takut hamil kembali.

Dukungan suami dan juga anggota keluarga lainnya sangat penting dalam mendorong Anda untuk bisa hamil kembali. Jangan lupa juga untuk selalu konsultasi dengan dokter yang menangani kandungan Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *